Pelayanan Penyedotan Lumpur Tinja

Pengelolaan kesehatan lingkungan memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan sektor sanitasi. Adanya sarana sanitasi yang baik akan meningkatkan derajat kesehatan lingkungan. Salah satu sarana sanitasi yang perlu mendapat perhatian khususnya di Kabupaten Tegal yaitu yang berkaitan dengan masalah limbah cair, karena pengelolaan limbah cair belum terlalu optimal. Penanganan masalah limbah cair baik yang berasal dari industri maupun sebagian kegiatan domestik saat ini masih menggunakan pengolahan secara on-site dan salah satu limbah terbesar yang dihasilkan yaitu limbah yang berasal dari rumah tangga dan kegiatan domestik. Buangan tinja yang juga termasuk kategori limbah cair domestik mengalami perlakuan yang berbeda yaitu dikumpulkan terlebih dahulu di tangki septik.

Pemakaian tangki septik sebagai tangki pengumpul lumpur tinja akan mengakibatkan munculnya timbulan lumpur tinja. Proses pengolahan tinja oleh tangki septik masih sangat terbatas dan belum sempurna sehingga beberapa paramenter pencemar dan bakteri pathogen masih terkandung cukup tinggi, oleh karena itu buangan lumpur tinja tersebut perlu diolah lebih lanjut, karena dapat menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan apabila tidak ditangani dengan baik.

Pengolahan lumpur tinja di Indonesia umumnya dilakukan pada Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT). Sejak tahun 1995 Kabupaten Tegal telah memiliki dan menggunakan IPLT dalam mengolah lumpur tinja tersebut. IPLT ini berlokasi di Desa Dukuhjati Kidul, Kecamatan Pangkah dan menempati lahan seluas ±2 Ha. Akan tetapi keberadaan IPLT ini belum diikuti dengan pengelolaan yang optimal baik dari segi teknis maupun non teknis.

Tinja adalah bahan buangan yang dikeluarkan dari tubuh manusia. Lumpur tinja berbeda dengan tinja. Lumpur tinja atau disebut juga septage (septijd) adalah material berupa padatan dan cairan yang merupakan hasil pemompaan dari tangki septik. Material yang terkandung dalam lumpur tinja berupa padatan zat-zat organik, lemak / minyak, pasir (grit) berpotensi sebagai tempat tumbuh berbagai virus penyebab penyakit, bakteri dan parasit atau lumpur yang dihasilkan dalam sistem pembuangan air limbah on-site secara individual khususnya tangki septik dan cesspool.

Lumpur tinja, kandungan bahan organiknya (VSS) dapat mencapai lebih dari 50.000 mg/l dan kandungan bakteri coli mencapai 1 x 109 MPN/100 ml. Bila lumpur ini langsung diaplikasikan ke tanah, akan berbahaya baik bagi tanah, tumbuhan, hewan maupun manusia sendiri. Pembuangan lumpur tinja secara langsung (tanpa pengolahan) ke lingkungan (tanah) dapat menimbulkan permasalahan, diantaranya timbulnya organisme penyebab penyakit (pathogen), timbulnya bau, dan menurunnya kualitas air tanah akibat terkontaminasi oleh lumpur tinja.

Kuantitas lumpur tinja yang diendapkan sangat bervariasi angkanya, mulai dari 0,3 m³ /orang/tahun sampai 0,7 m³/orang/tahun. Seorang yang normal diperkirakan menghasilkan tinja rata-rata sehari sekitar 83 gram dan air seni sekitar 970 gram. Kedua jenis kotoran manusia ini sebagian besar berupa air, terdiri dari zat organik (sekitar 20% untuk tinja dan 2,5% untuk air seni), serta zat-zat organik seperti nitrogen, asam fosfat, sulfur, dan sebagainya. Untuk menentukan jenis pengolahan lumpur tinja, sebelumnya harus diketahui karakteristik lumpur tinja terlebih dahulu. Karakteristik lumpur tinja secara umum dapat dibedakan atas :

Pengolahan yang dilakukan pada kolam pengolahan saat ini yaitu dengan pemberian kaporit pada kolam anaerobik, fakultatif, dan maturasi. Proses pengolahan pada IPLT Dukuhjati sudah tidak berjalan secara optimal karena debit yang masuk relatif masih terlalu kecil dibandingkan dengan kapasitas terpasang dari IPLT. Air limbah baru akan mengalir ke kolam pengolahan berikutnya ketika debit yang masuk telah sesuai dengan kapasitas IPLT. Warna hijau pada kolam maturasi yang merupakan warna alga untuk membantu proses secara aerobik.

Bak pengumpul sebagai unit penerima yaitu untuk perantara antara truk tinja dengan unit pengolahan selanjutnya. Bak ini untuk menerima dan menyimpan lumpur tinja. Di bak ini BOD,COD, TSS, Amonia, dan total coliform tidak mengalami penyisihan yang cukup berarti di karenakan waktu tinggal yang cukup singkat. Bak ini dapat dilengkapi dengan beberapa pre treatment seperti screening yang berfungsi untuk menyaring sampah dan padatan lainnya agar tidak terbawa proses selanjutnya.

Wetland merupakan proses alami yang melibatkan tanaman air, tanah untuk mengurai materi organik dalam air limbah.

Kolam anaerobik berfungsi menurunkan kandungan zat padat tersuspensi (SS) dan zat organik yang tinggi dengan bantuan bakteri. Untuk mempertahankan sistem dalam keadaan anaerobik yang akan menstabilkan limbah organik secara efisien, bakteri methanogenesis dan nonmethanogenesis harus dalam kesetimbangan dinamik. Untuk menciptakan kondisi demikian, kolam anaerobik semestinya tanpa oksigen terlarut. Pemberian kaporit pada kolam anaerobik bertujuan untuk menghilangkan mikroorganisme mengakibatkan timbul permasalahan baru yaitu timbul endapan pada bagian dasar kolam, pemakaian kaporit ini juga bisa mengakibatkan bakteri yang seharusnya masih hidup untuk mencernakan lumpur secara anaerobik akan mati, sehingga proses anaerobik tidak berjalan optimal walaupun kedalaman kolam telah memenuhi kriteria sebagai media tumbuhnya bakteri anaerobik.

Pada kolam fakultatif terdapat lapisan alga yang akan membantu suplai oksigen bakteri fakultatif untuk melakukan dekomposisi bahan organik dalam proses pengolahan lumpur tinja sehingga tercipta kondisi aerob pada permukaan atas kolam fakultatif. Sebagai timbal baliknya, karbondioksida yang dihasilkan dalam proses ini diberikan kepada ganggang / lumut yang memerlukan unsur karbon untuk berkembang biak. Pada kolam fakultatif lapisan bahan kolam harus dalam kondisi anaerobik, sedang bagian tengah dalam keadaan fakultatif.

Kolam maturasi bergantung pada kualitas bakteorologi yang diinginkan pada efluen. Dimana penyisihan bakteri coli dapat terjadi pada seluruh kolam. Kematian bakteri pathogen disebabkan karena temperature dan kondisi lingkungan yang mempengaruhi seperti Ph, suhu, dan temperatur. Pada proses dekomposisi juga terjadi kompetisi antara flora bakteri dan protozoa yang bersifat predator atau merusak.

Bak pengering lumpur pada IPLT Dukuhjati hanya berjumlah dua bak. Bak pengering lumpur 1 berfungsi untuk menampung lumpur kering tanpa air, sedangkan bak pengering lumpur 2 berfungsi untuk menampung kandungan air yang masih terbawa pada lumpur tersebut dan sebagai inluen dari hasil pengurasan tangki septik yang berumur lebih dari 20 tahun walaupun dahulu sebenarnya bak pengering lumpur 2 ini berfungsi untuk menerima lumpur hasil pemompaan dari sumur pengumpul. Antara bak pengering lumpur 1 dan 2 ini dihubungkan oleh suatu saluran kecil yang dahulu digunakan untuk memisahkan cairan dan lumpur pada bak pengering lumpur tersebut.

Pompa penguras lumpur pada IPLT Dukuhjati sudah lama tidak berfungsi. Kerusakan pompa penguras lumpur ini mengakibatkan tingginya volume lumpur pada kolam anaerobik, fakultatif, dan maturasi karena tidak adanya pengurasan endapan lumpur tinja secara berkala.

Pada IPLT Dukuhjati belum terdapat pompa pengenceran yang mana proses pengencerannya mengakibatkan kondisi sumur pengumpul lumpur menjadi kotor karena tidak adanya proses pembilasan bak pengumpul setelah truk tinja menggelontorkan limbahnya. Kondisi sumur pengumpul yang kotor ini dapat menjadi sasaran lalat dan hewan lain yang dapat menjadi vektor penyakit bagi masyarakat sekitar IPLT. Efluen hasil pengolahan IPLT yang mengalir pada suatu saluran terbuka terbuat dari pasangan batu bata plesteran. Air hasil olahan IPLT Dukuhjati mengalir melalu area persawahan.

Kami dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tegal menyediakan jasa penyedotan lumpur tinja guna menjaga kesehatan dan estetika lingkungan di wilayah Kabupaten Tegal. Dengan mengutamakan pelayanan yang prima dan kepuasan kepada pelanggan dengan Visi terwujudnya peran Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tegal dalam optimalisasi pelayanan publik yang terpadu dalam bidang sanitasi di Kabupaten Tegal dan Misi meningkatkan kinerja pelayanan publik dalam bidang sanitasi secara efektif, efisien, dan melayani, mewujudkan pelayanan publik yang prima.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*